Rante

chain-link-3DMestinya malam ini Dia bisa tidur tenang. Tapi ketika matanya melihat kembali kalender dan Dia tahu besok adalah hari gajian, justru itu yang membuat Dia tidak enak tidur. Ironis, aneh, ganjil, itulah yang mungkin terpikir oleh orang lain jika tahu keadaannya saat ini. Besok gajian. Semua orang normal tentu sepakat bahwa besok harus disambut dengan sukacita. Tapi Dia, Dia malah seperti takut menghadapi datangnya hari besok. Kalau bisa, Dia ingin menahan jarum waktu untuk berputar, dan biarlah masa tak berjalan dan tak ada hari besok, hari gajian. Tidak usah muncul mentari pagi menyambut hari baru, tanggal baru, tanggal gajian yang membuat semua orang bahagia, senang, gembira, tapi bukan buat Dia. Buat Dia, tidak usah ada hari besok, hari gajian……

Matanya menerawang, mengitari kamar kos yang sekarang Dia diami. Cukup lumayan untuk ukuran seorang buruh pabrik seperti Dia. Bahkan seringkali mengundang iri kawan-kawan yang sering datang bertandang. Sekali-sekali juga tempat ‘ngumpul’ kawan-kawan yang datang dengan beberapa keping VCD porno. Yah, memang lumayan karena di kamar itu tertonggok TV set 21 inch, VCD Player, mini compo, kipas angin. Cukup mewah memang, buat ukuran buruh seperti Dia. Namun itu pulalah  yang menjadi sumber petaka.

Masih terbayang wajah Mbak Idah, karyawan administrasi di Pabrik, yang menawarkan satu demi satu barang yang sekarang ada di kamar tersebut. Dengan wajah dan senyum seolah seorang dewi penolong dan rayuan yang susah untuk ditolak, satu demi satu barang-barang itu akhirnya menemani Dia menjadi penghuni kamar . Awalnya sih, tidak ada masalah. Gaji yang Dia terima dari pabrik milik orang asing itu cukup tinggi buat ukuran pabrik-pabrik yang ada di sekitar kawasan industri itu. Jauh melampaui Upah Minimum Sektoral yang ditetapkan oleh Gubernur. Cukup untuk menutupi uang kos, makan, minum, rokok, dan keperluan lain, serta cicilan barang-barang yang jadi penghuni kamar kosnya. Namun, sekitar 6(enam)  bulan yang lalu, ketika kabar dari kampung menyatakan panen gagal dan Bapaknya minta tolong agar uang ujian akhir adiknya yang duduk di kelas 3 STM Swasta Dia yang bayar, Dia sedikit bingung dan cerita ke Mbak Idah. Lagi-lagi dengan gaya seorang Dewi Penolong, dengan gampang Mbak Idah memberikan pinjaman yang jumlahnya satu setengah kali jumlah gajinya sebulan, dengan cicilan lunak, 5 kali, dan bunga 15%.

Dia tidak begitu mengerti syarat-syarat tadi. Yang ada di benak Dia adalah bagaimana secepatnya bisa mengirim uang ke kampung dan uang ujian adiknya bisa dibayar dan Bapak serta ‘Mak yang selalu membanggakan dirinya jika bercerita dengan tetangga karena bekerja di perusahaan asing, bisa senang dan bahagia. Dia juga tidak membayangkan berapa rupiah yang diambil oleh Mbak Idah dari kartu ATM, yang menjadi jaminan pinjaman tersebut, sebelum kartu ATM-nya diserahkan ke Dia untuk mengambil gaji yang masih tersisa, untuk kemudian, menjelang gajian bulan berikutnya, kartu ATM harus diserahkan lagi ke Mbak Idah. Istilah kawan-kawannya, kartu ATM tersebut ‘disekolahkan’. Jangan coba-coba untuk tidak menyerahkan kartu ATM jika masih ada hutang. Urusannya bukan ke Mbak Idah lagi, tetapi kepada beberapa ‘debt collector’-nya Mbak Idah yang selalu datang menagih dengan mata merah dan mulut sedikit berbau alkohol, walaupun pada siang hari dan cuaca panas terik.

Pada saat uang masih di tangan Mbak Idah, matanya hanya menatap kesitu dengan tidak sabar sehingga yang bisa Dia tangkap terakhir, dari ucapan Mbak Idah, adalah ketika Mbak Idah mengatakan bahwa jika Dia tidak sanggup membayar pinjaman pokoknya, terserah saja dan tidak ada masalah jika Dia hanya membayar bunganya saja. Ya, cukup rentenya. Itupun tidak mesti penuh. Berapa sanggupnya saja. Hal ini hanya Dia tangkap dan pikir sebagai suatu kemudahan dari sang dewi penolong. Hanya dengan tetap merelakan kartu ATM-nya sebagai jaminan, jadilah Dia bisa meringankan beban orang tuanya untuk membayar uang ujian adiknya.

Setelah itu, pada saat gajian tiba, dia kaget karena gajinya hanya tinggal separohnya saja. Seperti biasa, Mbak Idahlah yang mengambil bagiannya terlebih dahulu, baru setelah itu kartu ATM diserahkan kepadanya. Ketika Dia menanyakan kenapa uangnya tinggal segitu, dengan tangkas Mbak Idah menjelaskan jumlah hutangnya sekarang dan bunga yang harus dibayar dan, total jenderal, Dia harus membayar separoh dari gaji yang Dia terima. Dia hanya pasrah membayangkan jumlah itu tidak mungkin cukup untuk bekal hidup sampai gajian berikutnya. Setelah membayar uang kos, membeli keperluan sehari-hari, keningnya berkerut melihat jumlah uang yang hanya cukup untuk ongkos angkot pulang pergi ke pabrik plus untuk ojek dari gerbang Kawasan Industri ke Pabrik, dan beberapa hari untuk makan siang. Itupun tanpa rokok dan teh manis dingin. Bagaimana dengan sarapan dan minum jamu 3 kali seminggu yang biasa Dia Lakukan. Kerut di keningnya berkurang ketika membayangkan harus makan siang di warung Bang Edo setiap hari karena setelah makan tinggal lapor dan masuk daftar hutang. Kalau selama ini Dia masih bisa memilih makan siang dimana, sesuai dengan selera yang timbul pada saat itu. Tetapi dengan kondisi seperti ini, mana mungkin lagi memikirkan makanan yang cocok dengan selera, bisa makan dan dikasi hutang saja sudah syukur. Begitulah batinnya membatin. Yah, jadilah dia langganan tetap Bang Edo dan tidak perlu menahan diri untuk tidak minum teh manis dingin serta tidak merokok.  Untuk sarapan, dipada-padai lah makan lontong polos. tanpa embel-embel telur, apalagi daging rendang dan dendeng, menu favoritnya warung Wak Gemuk. Kadang-kadang segelas teh manispun cukup, walaupun rasanya, pada jam 10 atau jam 11, menuju ke bel istirahat berbunyi, jam 12, lama sekali, karena harus menahan rasa lilitan di perut yang minta segera diisi.  Akibatnya memang terasa. Kondisi badan Dia rasakan sangat tidak fit menghadapi kerja di pabrik dengan pengawasan mandor yang sangat ketat. Hasil kerjanya sangat sering tidak bisa melewati anggota team Quality Control dan terpaksa berulang kali di-repair. Tak urung, perubahan ini juga dirasakan oleh atasannya dan sudah berapa kali Dia mendapat teguran. Tapi, apa mau dikata, kalau sudah stamina menurun karena kalori yang masuk dan energi yang dikeluarkan tidak seimbang, ditambah pikiran yang hanya tertuju pada hitungan berapa gaji yang masih bisa dinikmati, atau bahkan pikiran juga kadang-kadang menghitung masih ada apa tidak sisa gaji bulan ini, dari faktor mana lagi yang bisa diambil untuk memompa semangat. Tapi, kadang masih sempat juga Dia bertanya pada diri sendiri, kapan Dia bisa kawin kalau kondisinya begini terus.

Sudah 3 bulan Dia terpaksa mengijinkan Mbak Idah hanya mengambil bunga dari pinjamannya karena bon hutangnya di warung Bang Edo naik terus ditambah dengan kebiasaannya yang baru, belum mau masuk kamar kos sebelum ngantuk sekali, yang juga tanpa disadari  telah menambah pengeluaran. Kalau belum ngantuk, acara TV sudah tidak menarik lagi. Lebih menarik duduk di warung Bang Ucok sambil sekali-sekali ikut menimpali abang-abang tukang beca yang asyik membahas nomor togel atau bisa baca koran yang penuh  dengan berita kriminal dan gambar-gambar seronok. Tapi sangat tidak enak rasanya kalau tidak memesan teh manis atau kopi dan pesanan itu bisa tahan satu sampai dua jam karena walaupun teh atau kopinya sudah habis, Bang Ucok dengan senang hati menambahkan  air putih-nya untuk mengisi gelas kembali, bahkan bisa sampai dua atau tiga kali lagi.  Jadilah Dia langganan tetap warung Bang Ucok setiap malam. Walaupaun sisa uangnya, setelah  Mbak Idah mengambil jatahnya yang katanya hanya bunganya saja, tinggal separuh gajinya, Dia belum berminat untuk ‘ngutang’ di warung Bang Ucok.

Bulan lalu, dua minggu sebelum gajian, Bapaknya ngirim kabar bahwa untuk musim tanam ini butuh modal sebesar tiga juta rupiah dan mohon Dia bisa mengirimkan uangnya atau mengusahakan meminjam dari mana saja. Yang penting modal tersedia dan keluarganya di kampung punya harapan untuk tetap bertahan hidup. Jumlah yang tidak kecil. Hampir tiga kali besar gajinya. Dia hanya tersenyum getir. Mungkin Bapaknya membayangkan Dia punya tabungan yang cukup untuk modal musim tanam ini. Seketika yang terbayang adalah wajah Mbak Idah. Yah, wajah yang walaupun banyak kawan-kawannya bilang lintah darat, dan Dia juga sebenarnya harus membenarkan, buat Dia wajah itu masih memberi harapan. Kepada siapa lagi Dia bisa ngomong. Di kota Medan sebesar ini, dia hanya punya satu uwak dan keluarganya yang hidupnya pas-pasan. Dari kawan uwaknya inilah dia mendapat informasi dan dengan sedikit ‘uang rokok’ yang diberikan kepada kawan uwaknya ini, jadilah Dia buruh di pabrik orang asing itu. Pada awalnya, setiap bulan Dia masih rajin bertamu ke rumah uwaknya itu, dan tetap membawa beberapa bungkus nasi goreng atau mie aceh kesenangan uwaknya. Namun, sejak berhubungan dengan Mbak Idah, kebiasaan itu jarang dilakukan, bahkan dalam lima bulan terakhir ini, kebiasaan itu sama sekali tidak Dia lakukan. Jadi kepada siapa lagi Dia mau mengadu kalau bukan ke Mbak Idah. Ya, Mbak Idah. Dengan sedikit berpikir menyusun alasan yang bisa meyakinkan Mbak Idah, bagaimana perlunya duit ini, dan dengan janji bahwa dalam dalam tiga bulan pinjaman ini akan dibayar lunas, jadi Mbak Idah cukup mengambil bunganya saja dulu, maka Dia pun bisa mengirim ke Bapak modal yang buat musim tanam. Tak lupa Dia melebihkan pinjaman setengah juta untuk dirinya, Buat jaga-jaga pikirnya. Dia kaget juga ketika Mbak Idah menyodorkan hasil hitung-hitungan yang harus diambil Mbak Idah dari gajinya dua minggu lagi. Hanya bersisa empat ratus ribu. Gawat juga. Untung ada uang jaga-jaga, pikirnya saat itu. Benar saja, bulan lalu Mbak Idah hanya menyisakan sekitar empat ratus ribu rupiah dari hasil kerjanya yang sangat berat sebulan penuh. Apa boleh buat. Ditambah dengan uang jaga-jaga yang setengah juta, Dia bisa hidup agak tenang selama satu bulan ini. Bagaimana dengan bulan berikutnya. Dan kemarin kartu ATM sudah diserahkan ke Mbak Idah. Besok adalah hari Gajian.

Dia lihat jam, mestinya dia sudah siap-siap untuk keluar rumah, singgah di warung Wak Gemuk untuk sarapan, dan naik angkot menuju pabrik. Dia bisa sampai ke pabrik  dan melakukan ‘posting’ kartu absennya sebelum bel berbunyi. Soalnya, jika posting dilakukan setelah bel berbunyi maka angka di kartu absennya akan merah dan insentif akan dipotong 80.000 rupiah. Tapi hari ini, hari gajian, membanyangkan berapa yang akan disisakan Mbak Idah untuk Dia, Dia jadi sama sekali tidak ingin untuk ke Pabrik. Bahkan untuk selamanya. Dia buka dompet. Dia keluarkan kartu kredit. Ya, kartu kredit. Selama ini Dia hanya bisa mendengar tentang kartu kredit dan membayangkan bahwa yang bisa belanja ke mana-mana, makan dimana-mana, pergi kemana-mana, hanya dengan menggunakan kartu kredit, hanyalah orang-orang yang pakai dasi, naik mobil mentereng, dan punya jabatan bagus. Tapi beberapa minggu yang lalu, kawan dari teman satu pabriknya, yang katanya bekerja di marketing kartu kredit, menawarkan ke Dia untuk memiliki kartu kredit. Tadinya Dia tidak berminat sama sekali, karena yang dibayangkan adalah tempat-tempat bagus yang menerima kartu kredit tidak mungkin Dia datangi, lagi pula jika kita butuh duit dan ngambil di ATM potongan dan bunganya sangat tinggi dan ngambilnya juga terbatas, jadi untuk apa punya kartu kredit. Namun ketika si kawan menjelaskan kita bisa ngambil duit sebanyak batas atau limit kredit yang kita miliki di salah satu toko  mas, seolah-olah kita beli mas di toko tersebut, Dia mulai agak tertarik. Apalagi ketika sang kawan meminta tolong agar Dia mengisi saja formulir aplikasi dan kalaupun kartu kreditnya tidak dipakai, ya tidak ada masalah, toh ‘annual fee’ tahun pertama gratis, dan Dia sudah membantu si kawan untuk memenuhi target penjualan. Jadilah Dia mengisi, menandatangani, dan menyerahkan fato copy KTP-nya, yang walaupun sudah mati, kawan tadi bilang bisa diakal-akali. Minggu lalu, kartu kredit itupun jadi penghuni dompetnya.

Dia bolak-bolak balik kartu kredit tersebut. Di bagian belakang Dia lihat sudah ada tanda tangannya. Dia ingat waktu menerima kartu itu, bahwa Dia bisa belanja dengan memakai Kartu Kredit itu sebesar 3 juta rupiah.  Akhirnya Dia ingat cerita tentang toko mas. Ya, toko mas yang bisa memberikan duit kontan sejumlah yang kita mau seolah-olah kita membeli mas sejumlah duit tersebut. Hanya dengan menggesek kartu kredit. Seperti mendapat tiupan semangat entah dari mana, Dia langsung bersiul-siul, masuk kamar mandi, dan akhirnya dengan santai dia sekarang sedang menikmati sarapan dengan menu favoritnya warung Wak Gemuk. Habis sarapan, walaupun jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan, Dia dengan tenang menghisap rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.  Pertanyaan Wak Gemuk, apa hari ini tidak bekerja, hanya Dia jawab dengan senyum sambil menuangkan air dari ceret besar ke gelasnya yang hampir kosong. Dia tidak takut terlambat, Dia tidak takut insentifnya dipotong, dan Dia tidak ingin memikirkan lagi berapa sisa uang di rekeningnya setelah nanti Mbak Idah mengambil bagiannya. Dia, hari ini sudah mengambil keputusan. Nekat memang. Habis sarapan dia akan ke toko mas yang diceritakan kawannya dulu. Dari kartu kredit yang limitnya 3 juta rupiah, Dia akan ambil duit sebatas yang Dia bisa ambil. Selanjutnya Dia akan ke terminal Amplas, selanjutnya Dia akan naik bus, pulang ke kampungnya, Selanjutnya, Dia tidak tahu, Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, karena memang sama sekali pikirannya tidak sanggup untuk membayangkan apalagi memikirkannya. Yang penting saat ini, yang ada di benaknya adalah bagaimana secepatnya pergi jauh, sejauh mungkin, meninggalkan hutang dan rente yang semakin menjadi beban dan Dia tidak tahu bagaimana dan sampai kapan bisa lepas membayang-bayangi gajinya. Habis.

 

 

<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<      >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Identitas Penulis

Nama Lengkap              : Drs. Bahrum Jamil

Alamat                         : Jl. Karya Dharma, Kompl. Karida Indah, No. B-21

Medan Johor – Medan 20143

Telp. 77835316

Hp : 0811659910

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *