Puasa dan “Self-leadership”

Oleh : Drs. Bahrum Jamil,MAP (*)

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan. Selamat datang bulan Ramadhan. Ramadhan kembali datang dan bagi umat Islam yang beriman dan telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan, wajib melakukan puasa. Sekilas, kedatangan Ramadhan mungkin merupakan sesuatu yang rutin setiap tahunnya. Sama seperti datangnya bulan-bulan yang lain. Masing-masing kelompok masyarakat, sesuai dengan umur, tingkat pendidikan, status, maupun profesinya, mungkin mempunyai kegiatan rutin, atau bahkan ritual yang rutin pada saat Ramadhan tiba. Rutinitas itu kembali berjalan, dan dari tahun ke tahun, serta akan diakhiri oleh kemeriahan Hari Raya Idul Fitri. Begitulah yang dialami oleh sebahagian umat yang berpuasa. Banyak hikmah yang tidak terungkap dan tidak dapat dirasakan dan banyak juga yang menjalani ibadah puasa dalam keterpaksaan sehingga perginya Ramadhan yang justru disambut dengan sukacita dengan dalih merayakan Idul Fitri.

 

Puasa, suatu ibadah yang lain dari yang lain. Ibadah yang ketika kita jalani, hanya kita dan Sang Maha Pencipta dan Maha Melihat yang dapat menilai kualitas dan keabsahannya. Ibadah yang benar-benar menuntut keikhlasan, kerelaan, dan jauh dari kepura-puraan. Ibadah yang

setiap ilmuan menganalisanya dari sudut pandang ilmu yang dia geluti dan menghasilkan banyak kesimpulan yang tidak satupun mengatakan atau mengungkapkan hal-hal yang negatif

(*) Penulis adalah dosen pada Jur. Ilmu Komunikasi, Fak. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,    Universitas Medan Area.

Tentang puasa. Termasuk juga pendapat yang dikemukakan oleh kalangan non muslim.

Salah satu dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam Ibadah Puasa ini adalah pengendalian diri. Kemampuan untuk mengendalikan diri dari orang yang sedang berpuasa sangat menentukan mutu dan kualitas puasanya di mata Tuhan yang Maha Kuasa. Bayangkan bagaimana ketika kita berpuasa dan dihadapan kita terpampang suguhan yang jika kita nikmati dapat membatalkan pahala puasa atau bahkan dapat membatalkan puasa kita. Suguhan itu bukan hanya dalam bentuk makanan dan minuman, tetapi suguhan untuk mata yang mengundang syahwat kita bereaksi, suguhan yang memancing indera kita untuk merespon ke arah yang bersifat negatif, bahkan suguhan yang memancing emosi dan membangkitkan keinginan untuk marah. Bayangkan juga jika kita harus melakukan sesuatu yang pada saat lain atau pada bulan lain kita dengan enteng dapat melakukannnya tetapi ketika hal itu akan kita lakukan pada saat kita berpuasa, ada bisikan atau kontrol dari diri kita yang menghalangi kita untuk melakukan itu. Ada sesuatu yang pada saat itu mengingatkan kita bahwa kita sedang berpuasa. Akhirnya kita lakukan atau tidak perbuatan itu, sangat tergantung pada tingkat pengendalian diri kita plus pemahaman kita terhadap essesnsi puasa yang kita lakukan. Demikian juga ketika pada saat kita sedang berpuasa kita ingin marah atau dimarahi orang lain, ingin membenci atau dibenci  orang lain, ingin berlaku tidak adil atau diperlakukan tidak adil oleh orang lain, ingin berlaku curang atau dicurangi oleh orang lain, Ibadah  puasa yang sedang kita jalani bisa sangat mempengaruhi keinginan yang akan kita lakukan kepada orang lain demikian juga respon diri terhadap perlakuan orang lain kepada kita. Ibadah Puasa bisa mengalahkan ego kita untuk tidak berbuat sesuatu atau untuk melakukan sesuatu. Intinya adalah bagaimana kita memaknai puasa yang kita lakukan dan mengambil hikmahnya dalam melakukan pengendalian diri. Keberhasilan dalam melakukan pengendalian diri akan memberikan tampilan  perilaku positif sebagai hasil dari suksesnya kita melakukan ‘self-leadership’ , kepemimpinan pada diri sendiri.

Leadership atau kepemimpinan merupakan suatu faktor penting yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menggerakkan orang lain, untuk mencapai hasil yang telah dirumuskan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, seseorang harus mempunyai kecerdasan-kecerdasan tertentu yang kecerdasan-kecerdasan tersebut akan terlihat pada tipe kepemimpinan yang ia miliki.  Pada awalnya, kecerdasan intelektual merupakan faktor utama yang harus dimiliki seorang pemimpin dan dipercaya akan memberi warna dari kepemimpinannya. Seorang pemimipin haruslah seorang yang cerdas sehingga ia mampu menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan. Kemudian muncul pemikiran yang menyatakan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin yang berhasil.  Disamping intelektual, kecerdasan emosional juga cukup berperan dalam diri seorang pemimpin, bahkan ada yang mengatakan mutlak untuk dimiliki. Pemimpin yang mempunyai tingkat kecerdasan emosional yang tinggi dikatakan akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang tidak ‘nyeleneh’ dan dapat diterima oleh semua orang. Kepemimpinannya akan membuat orang-orang yang dipimpin terayomi, terlindungi, sekaligus termotivasi untuk berbuat yang lebih maju lagi. Ia tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan. Selanjutnya muncul lagi suatu kecerdasan baru yang juga dianggap sebagai kecerdasan yang lebih penting dimiliki oleh seorang pemimpin, disamping kedua kecerdasan diatas. Kecerdasan tersebut adalah kecerdasan spiritual. Sebenarnya jika kita telaah lebih dalam, mungkin kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketiga kecerdasan tersebut saling mengisi dalam membentuk jiwa kepemimpinan seseorang. Namun jika kita melihat sisi aplikasi dari kecerdasan-kecerdasan tersebut, dua kecerdasan terakhir, emosional dan spiritual, merupakan refleksi moral yang dimiliki seseorang yang tercermin dari tindakan dan perilakunya. Keduanya bisa tumbuh dalam diri manusia berkat adanya latihan-latihan bathin yang berat dan konsisten yang dikomandoi oleh self-leadership atau kepemimpinan diri yang teruji. Kecerdasan-kecerdasan ini tidak datang dengan seketika karena jika ia datang dengan seketika, apalagi dipaksakan, maka ia tidak akan langgeng dan akan hilang juga dengan seketika. Dia butuh pemahaman yang dalam dan juga butuh latihan agar teruji dan akhirnya akan menjadi kesatuan dalam tampilan perilaku manusia yang memilikinya.  Lantas, apa kaitannya dengan puasa …………???

Seperti yang telah disinggung diatas, puasa merupakan ibadah yang memiliki kekhasan tersendiri dibanding dengan ibadah lainnya.  Ciri khas  yang paling menonjol dari ibadah puasa adalah bahwa orang yang melakukan puasa tidak akan dapat membuat orang percaya atau tidak percaya bahwa dia sedang puasa, apalagi jika dia mengatakan ke orang lain bahwa puasa yang ia lakukan merupakan puasa yang paling “paten” dibanding puasanya orang lain. Jika ibadah lain, misalnya shalat, orang akan dapat melihat dan menghitung berapa raka’at atau seberapa lamanya dia mengerjakan shalat. Jika orang membanggakan sedekahnya, orang bisa melihat jumlah duit yang dia sedekahkan. Tetapi jika puasa, siapa yang bisa membedakan orang yang puasa atau tidak puasa jika orang tersebut tidak makan atau minum dihadapan kita. Apa ukurannya bahwa dia berpuasa lebih hebat dari orang lain, jika ia membanggakan ibadah puasa yang ia lakukan. Apakah karena ia kelihatan lemah, atau kelihatan pucat, atau kelihatan bibirnya kering dan pecah-pecah karena puasa, atau selama puasa ia menjadi pendiam, dan lain sebagainya. Semuanya itu tidak akan dapat menjadi ukuran puasanya lebih hebat dari orang lain. Hanya Dia dan TuhanNya yang tahu seberapa bagus kualitas dari puasa yang ia kerjakan. Untuk menilai inipun orang yang berpuasa dituntut untuk memahami makna puasa yang ia lakukan.  Jika tidak, ia akan berpuasa seperti mengikuti tradisi puasa yang sudah ia lakukan sejak ia masih di sekolah dasar misalnya. Ia hanya tahu bahwa puasa itu hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya. Ia tidak pernah ingin menggali apa dan bagaimana puasa itu sebenarnya mampu memberi hikmah lebih dari hanya sekedar kesehatan, kebugaran, dan merasakan lapar yang bagi sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung sudah merasakannya tidak hanya dibulan Ramadhan.  Dan yang paling penting bagaiman kita dapat menjadikan puasa sebagi arena latihan dari penerapan ‘self-leadership” dalam diri kita.

Nabi Muhammad SAW memberikan perumpamaan puasa sebagai suatu peperangan yang lebih dahsyat  dibanding peperangan yang sebenarnya. “Kita baru saja kembali dari perang yang dahsyat dan akan menghadapi perang yang lebih dahsyat”, begitulah kira-kira kata Nabi Muhammad SAW dalam menyambut Ramadhan ketika baru saja kembali dari suatu peperangan. Ketika para sahabat bertanya perang apa yang lebih dahsyat, yang dimaksud oleh beliau, maka Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa perang yang lebih dahsyat tersebut adalah perang melawan hawa nafsu kita sendiri,  yang kita lakukan ketika kita sedang  berpuasa. Ya, perang melawan hawa nafsu sendiri. Seorang pemimpin dapat menjalankan kepemimpinannya dengan menerapkan ‘segerobak’ teori yang dapat diperoleh dari berbagai sumber untuk menggerakkan orang-orang, mencapai apa yang diinginkan. Berbagai teori tentang ‘Leadership’ dengan segala pernak-perniknya bisa membuat  seseorang menjadi sosok pemimpin yang sukses dalam menjalankan profesinya. Akan tetapi,  apakah dengan otomatis pemimpin tersebut juga sukses dalam kehidupan pribadinya, dalam arti disamping menjalankan profesi , sang pemimipin juga menjalankan fungsi sebagai makhluk social seperti yang digariskan oleh agama, nilai-nilai social yang berlaku dan juga menjalankan fungsinya dalam keluarga dengan baik. Jawabannya : belum tentu. Ada banyak pimpinan yang yang cukup sukses di karir tetapi ternyata di luar dinas ia tidak tampil sebagai manusia ideal. Ia berhasil memimpin team kerjanya untuk sukses namun ia gagal memimpin dirinya sendiri untuk mengikuti nilai-nilai dan norma kehidupan yang dituntut Sang Pencipta kepadanya. Ia hidup diatas selera dan kehendak yang dia rasa membawa kenikmatan hidup, walaupun sebenarnya ia tahu betul bahwa banyak hal yang dilarang oleh agama, namun ia kerjakan dan sebaliknya, banyak hal yang ia sangat mengerti diperintahkan oleh agama justru tidak pernah ia  lakukan.  Nah, pada bulan Ramadhan, yang muncul sekali dalam setahun ini, umumnya orang, tentunya dengan motivasi masing-masing, cenderung menjalankan ibadah puasa. Bisa saja di luar Ramadhan orang tidak banyak melakukan amalan lain yang diperintahkan, tetapi  lain pada saat Ramadhan, banyak yang melakukan ibadah puasa, dan mampu. Dan biasanya, kemampuan untuk tidak makan dan minum ini juga diiringi dengan mampunya seseorang menahan, walaupun dengan terpaksa, kebiasaan-kebiasaan yang pada bulan lain selalu dengan rutin dilakukan. Misalnya menghabiskan waktu selesai jam dinas di tempat-tempat santai, di café, diskotik, karaoke, atau sekedar main kartu dengan taruhan ‘seadanya’. Pada saat ini ada sesuatu yang memimpin diri, membatasi diri, dan melakukan kontrol terhadap diri dari perbuatan yang melanggar norma. Sesuatu itu adalah puasa.

Puasa bisa jadi ‘pemimpin‘ dalam diri orang yang mengerjakannya dan menggerakkan orang tersebut ke arah perilaku yang sesuai dengan norma-norma agama. Puasa merupakan ‘self-leadership’ yang melakukan ‘self-control’ bagi yang melaksankannya agar perilaku yang sedang beribadah puasa terpimpin menuju ‘akhlakul karimah, akhlak yang mulia.  Seorang Orang Asing, pimpinan sebuah PMA pernah berkomentar, alangkah baiknya jika Ramadhan bisa diperpanjang, karena selama Ramadhan situasi sangat kondusif, kebersihan terjaga, dan sangat sedikit terjadi pelanggaran-pelanggaran disiplin. Komentar yang keluar dari seorang asing dan non muslim ini mungkin juga anda rasakan di lingkungan anda.  Disini kelihatan bagaimana pengaruh Ibadah Puasa, secara kolektif, telah memberi warna lain bagi suatu lingkungan. Bagaimana pula pengaruhnya bagi diri pribadi sebagai individu.

Tentunya orang yang sedang berpuasa, yang telah mempelajari hikmah puasa, telah merasakan nilai positif puasa bagi pola hidupnya selama Ramadhan, dan yang paling penting, ia melakukan ibadah puasa semata-mata untuk mencari Ridha Allah, dan melakukannya  dengan ikhlas, pasti sangat merasakan betapa puasa mampu memimpin dirinya untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma kehidupan yang telah diajarkan oleh agama, jauh dari perbuatan keji dan mungkar. Puasa menjadi ‘leader’ bagi dirinya dalam berperang melawan hawa nafsu. Puasa membuka mata hatinya untuk melihat kehidupan saudara-saudaranya yang hidupnya kurang beruntung, dan puasa mampu membuat dia mengerti dari mana dia datang, untuk aoa dia diciptakan, dan kemana ia akan menuju setelah kehidupan dunia ini berakhir. Ia akan sangat sedih ketika Ramadhan berakhir, karena di luar Ramadhan tidak ada lagi puasa sebagai ‘self-leadership’ dalam dirinya. Kadang-kadang, perilaku yang begitu indah pada saat kita berpuasa tidak mampu bertahan selama sebelas bulan kedepan sampai Ramadhan muncul kembali. Maka sangat benarlah bunyi sebuah hadits Nabi Muhammad  SAW yang kira-kira mengatakan bahwa jika saja umatku mengerti tentang keutamaan Puasa Ramadhan maka ia akan berharap agar sepanjang tahun adalah Bulan Ramadhan. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *